Batanghari, Lampung Timur (Humas KUA)--- Penyuluh Agama Buddha KUA Batanghari Sri Utaminingsih memanfaatkan kegiatan rutin Puja Bakti Anjangsana sebagai sarana memperkuat pembinaan keagamaan bagi umat Buddha Vihara Virya Dharma, Desa Balerejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur. Kegiatan yang berlangsung di kediaman Bapak Slamet, Sabtu (4/7/2026), mengangkat tema "Hidup Bahagia Tanpa Hutang dalam Dhamma".
Puja Bakti Anjangsana diawali dengan penghormatan kepada Tiratana, pembacaan paritta suci, meditasi, sharing Dhamma, dan doa pelimpahan jasa. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung khidmat dan diikuti umat dengan penuh semangat kebersamaan sebagai bagian dari upaya memperdalam penghayatan terhadap ajaran Buddha.
Dalam pembinaannya, Sri Utaminingsih menegaskan bahwa ajaran Buddha memandang kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari ketenangan batin dan terbebas dari berbagai beban kehidupan, termasuk hutang. Menurutnya, salah satu kebahagiaan yang diajarkan Sang Buddha adalah Ana?a-sukha, yaitu kebahagiaan karena terbebas dari hutang.
Ia menjelaskan bahwa ajaran tersebut termuat dalam A?guttara Nik?ya 4.62 (Ana?a Sutta) yang menguraikan empat kebahagiaan seorang perumah tangga (gihisukha), yaitu kebahagiaan karena memiliki harta yang diperoleh melalui penghidupan benar, kebahagiaan memanfaatkan harta secara bijaksana, kebahagiaan karena terbebas dari hutang, serta kebahagiaan menjalani kehidupan yang bersih dari cela melalui perilaku yang bermoral.
"Hutang bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi beban batin yang dapat memunculkan kecemasan, tekanan psikologis, bahkan mengurangi kebebasan seseorang. Dalam pandangan Buddha, keterikatan merupakan akar penderitaan. Karena itu, hutang yang tidak dikelola secara bijaksana dapat memperkuat penderitaan tersebut," ujar Sri Utaminingsih.
Ia juga mengutip Dhammapada ayat 204 yang menyatakan bahwa "Kesehatan adalah keuntungan terbesar, kepuasan adalah kekayaan terbesar." Menurutnya, ajaran tersebut mengingatkan bahwa ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki sering kali mendorong seseorang terjerat hutang akibat keinginan (ta?h?) yang tidak terkendali.
Selain itu, Sri Utaminingsih mengulas ajaran Sigalovada Sutta tentang pentingnya mengelola keuangan secara bijaksana. Umat diajak membiasakan hidup sesuai kemampuan, menyusun anggaran, menabung, serta menggunakan penghasilan secara proporsional untuk memenuhi kebutuhan, mengembangkan usaha, dan mempersiapkan kebutuhan di masa mendatang.
Lebih lanjut, ia mengajak umat menerapkan pola hidup sederhana (santutthi), mencari nafkah melalui penghidupan benar (samm?-?j?va), mengendalikan keinginan, serta membiasakan berdana sebagai latihan mengurangi kemelekatan. Umat juga diingatkan agar tidak membeli sesuatu semata-mata karena gengsi, melainkan berdasarkan kebutuhan yang sesungguhnya.
Sri Utaminingsih berharap melalui pembinaan tersebut umat Buddha semakin memahami bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kemampuan menjalani kehidupan sesuai Dhamma, hidup berkecukupan, menjaga moralitas, dan terbebas dari beban hutang, baik hutang materi maupun hutang batin berupa keserakahan, kecemasan, dan kemelekatan.
"Kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan hati yang merasa cukup, hidup dengan penuh kebijaksanaan, dan terbebas dari beban yang menimbulkan penderitaan," tuturnya.
Melalui kegiatan Puja Bakti Anjangsana, diharapkan terjalin persaudaraan yang semakin erat di antara umat Buddha sekaligus meningkatnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan yang berkelanjutan diharapkan mampu membentuk umat Buddha yang bijaksana, mandiri, harmonis, serta mampu mengaktualisasikan ajaran Buddha dalam kehidupan bermasyarakat.***(NL)
