Search

Menikmati Indahnya Kebersamaan dalam Iedhul Adha di Indonesia Tahun 2026

Menikmati Indahnya Kebersamaan dalam Iedhul Adha di Indonesia Tahun 2026

Menikmati Indahnya Kebersamaan dalam Iedhul Adha di Indonesia Tahun 2026

Bandar Lampung – Perayaan Iedhul Adha di Indonesia kerap kali diwarnai oleh dua dinamika: momen kebersamaan yang syahdu saat Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam merayakannya serentak, atau momen toleransi tinggi saat tanggal pelaksanaannya berbeda. Fenomena ini bukanlah barang baru, melainkan buah dari kekayaan metode ijtihad dalam khazanah hukum Islam dan astronomi modern. 

Secara teknis, pangkal perbedaan ini terletak pada dua aspek utama: metode yang digunakan serta kriteria minimal penentuan hilal (bulan sabit muda). 

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama bersama Nahdlatul Ulama (NU) dan beberapa ormas lain, menggunakan metode Rukyatul Hilal (pengamatan langsung di lapangan) yang dikombinasikan dengan hisab. Sebagai standar penentu, Indonesia kini mengacu pada Kriteria MABIMS baru, yang mensyaratkan hilal dapat terlihat jika posisinya minimal berada di ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Jika posisi hilal berada di bawah angka tersebut, secara otomatis bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). 

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai saat tetep menggunakan konsep Hisab Wujudul Hilal. Metode ini murni mengandalkan perhitungan matematis-astronomis tanpa mensyaratkan visibilitas mata telanjang. Bagi Muhammadiyah, selama konjungsi (ijtima') sudah terjadi dan posisi bulan sudah berada di atas ufuk (lebih dari 0 derajat) saat matahari terbenam, maka malam tersebut sudah sah memasuki bulan baru. Perbedaan batas minimal derajat inilah yang paling sering memicu selisih satu hari dalam kalender hari raya.

Sudut Pandang Pakar Astronomi dan Ahli Falak

Para peneliti astronomi menjelaskan bahwa pangkal masalah sesungguhnya bukan pada perdebatan antara melihat hilal (rukyat) atau menghitung gerakan bulan (hisab). Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Pakar Astronomi dan Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan bahwa perbedaan tersebut murni bersumber dari kriteria batasan yang digunakan oleh masing-masing lembaga. 

"Penyebab utama perbedaan di Indonesia bukan karena metode hisab dan rukyatnya, tetapi pada perbedaan kriterianya. Muhammadiyah masih kekeh menggunakan kriteria Wujudul Hilal, sedangkan Pemerintah dan ormas lain menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS. Ketika posisi ketinggian hilal berada di zona abu-abu—yakni sudah di atas ufuk tetapi belum mencapai 3 derajat—di sanalah perbedaan hari raya pasti terjadi," jelas Thomas dalam kajian astronominya.  

Tinjauan Otoritas Keagamaan dan Tokoh Nasional

Dari kacamata keagamaan dan sosial-politik, perbedaan pandangan ini dipandang sebagai bentuk kedewasaan umat. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menyampaikan apresiasi mendalam baik saat ormas Islam berhasil mencapai titik temu maupun ketika menyikapi perbedaan dengan damai. 

"Kalaupun di lapangan kita menemui adanya perbedaan tanggal, sesungguhnya kita adalah satu juga. Fiqh al-ikhtilaf atau fikih dalam mengelola perbedaan pendapat demi menjaga persatuan umat adalah hal yang sangat penting untuk kita kedepankan bersama," tuturnya dalam sebuah kesempatan. 

Senada dengan hal itu,Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI mengingatkan agar dinamika penentuan hari besar Islam tidak dipandang secara negatif. 

"Perbedaan umat Islam dalam penetapan hari raya tidak perlu dibesar-besarkan secara berlebihan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menghindari perpecahan, menjaga ukhuwah islamiyah, dan fokus pada esensi ibadah itu sendiri," tegas Nasaruddin. 


Berkah Saat Merayakan Serentak


Menariknya, ketika perhitungan astronomis berada pada posisi di mana kedua kriteria tersebut sama-sama terpenuhi—yakni saat hilal langsung melesat tinggi di atas kriteria MABIMS—masyarakat dapat menikmati indahnya momentum Iduladha secara bersamaan. Syiar Islam pun terasa jauh lebih kuat dan menggema dari sabang sampai merauke. 

Momentum "barengan" seperti ini diakui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai modal sosial yang luar biasa untuk memperkuat persatuan nasional. Hal ini membuktikan bahwa di atas segala perbedaan teknis kalkulasi astronomi, esensi Iedhul Adha sebagai hari raya pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial tetap menyatukan hati seluruh umat Muslim Indonesia.