Sukadana (Humas) — Sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama memohon rahmat Allah SWT, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Timur melaksanakan Salat Istisqa bersama warga binaan di Rutan Kelas IIB Sukadana, Lampung Timur.
Kegiatan tersebut diikuti secara berjamaah bersama petugas pemasyarakatan, warga
binaan dengan melibatkan lima Penyuluh Agama Islam Kemenag Lampung Timur, yakni
Minaryo, Fery Sandria, Idawati, Mardiana, dan Minatul Muharomah. Salat Istisqa
merupakan salat sunah muakkadah yang dilaksanakan secara berjamaah sebagai
bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, khususnya ketika
terjadi kekeringan atau kondisi minim hujan.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Lampung Timur, Idawati,
mengatakan pelaksanaan Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama
sekaligus kesempatan untuk melakukan introspeksi diri.
“Salat Istisqa ini bukan hanya tentang memohon turunnya
hujan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita untuk bermuhasabah,
memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Semoga doa yang kita
panjatkan bersama mendapat keberkahan dan membawa manfaat bagi masyarakat,”
ujar Idawati.
Menurutnya, doa dan ibadah perlu berjalan beriringan dengan
upaya menjaga lingkungan serta menggunakan air secara bijak. Nilai tersebut
juga penting ditanamkan kepada warga binaan sebagai bagian dari pembinaan
keagamaan dan pembentukan sikap selama menjalani masa pembinaan.
Pelaksanaan Salat Istisqa di Rutan Kelas IIB Sukadana
sekaligus memperkuat peran Penyuluh Agama Islam dalam memberikan pembinaan
keagamaan di tengah masyarakat, termasuk kepada warga binaan. Melalui kegiatan
keagamaan yang dilakukan secara bersama, diharapkan tumbuh kesadaran untuk
terus memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan meningkatkan
kepedulian terhadap sesama.
Ikhtiar tersebut menjadi doa bersama bagi masyarakat Lampung
Timur dan Provinsi Lampung agar senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan,
serta kecukupan air dan hujan yang membawa manfaat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menghadapi
kondisi kekeringan membutuhkan ikhtiar bersama, baik melalui pendekatan
spiritual maupun kepedulian terhadap lingkungan dan penggunaan sumber daya air
secara bijak.
