Search

Kurikulum Berbasis Cinta : Arah Baru Pendidikan atau Sekadar Retorika Humanis ? ( Catatan kecil dari sosialisasi KBC di Kemenag Lamtim )

Kurikulum Berbasis Cinta : Arah Baru Pendidikan atau Sekadar Retorika Humanis ? ( Catatan kecil dari sosialisasi KBC di Kemenag Lamtim )

Kurikulum Berbasis Cinta : Arah Baru Pendidikan atau Sekadar Retorika Humanis ?

( Catatan kecil dari sosialisasi KBC di Kemenag Lamtim )

By. H. Ma'ruf Abidin, M.Si

Pembahasan tentang kurikulum berbasis cinta yang kembali menguat setelah dorongan dari Kementerian Agama Republik Indonesia memunculkan satu pertanyaan penting di kalangan pengamat pendidikan: apakah ini benar-benar arah baru pendidikan Indonesia, atau hanya penguatan retorika humanistik yang sudah lama ada dalam kebijakan pendidikan nasional?

Di permukaan, gagasan ini terdengar sederhana: pendidikan harus dibangun di atas kasih sayang, empati, dan relasi yang manusiawi. Namun di balik konsep yang terdengar hangat itu, terdapat tantangan besar terkait implementasi, struktur sistem pendidikan, hingga budaya sekolah yang sudah lama terbentuk.

Dari Filosofi ke Kebijakan: Cinta yang Sudah Lama Ada, Tapi Tidak Selalu Hadir

Secara filosofis, ide pendidikan berbasis cinta sebenarnya bukan hal baru. Ki Hajar Dewantara telah lama menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun kodrat anak” agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Namun dalam praktiknya, sistem pendidikan Indonesia berkembang ke arah yang semakin teknokratis: kurikulum berbasis kompetensi, asesmen terstandar, dan indikator capaian yang ketat.

Paulo Freire bahkan mengkritik model pendidikan seperti ini sebagai banking education, yaitu sistem yang menempatkan siswa sebagai objek pasif.

Dengan latar ini, munculnya kembali istilah “cinta” dalam pendidikan memunculkan kesan korektif—seolah ada kebutuhan untuk mengembalikan dimensi yang hilang dari sistem pendidikan modern.

Kementerian Agama dan Agenda Humanisasi Pendidikan

Dorongan terbaru datang dari Kementerian Agama Republik Indonesia, yang mulai mengarusutamakan pendekatan pendidikan berbasis cinta dalam ekosistem madrasah dan pendidikan keagamaan.

Dalam pendekatan ini, cinta dipahami dalam tiga dimensi utama: Cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia dan cinta kepada alam

Kebijakan ini juga dikaitkan erat dengan program moderasi beragama yang selama ini menjadi agenda utama Kementerian Agama Republik Indonesia.

Secara konsep, pendekatan ini berupaya memperkuat pendidikan karakter yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga afektif dan sosial.

Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa tantangan utama bukan pada konsepnya, melainkan pada konsistensi implementasi di lapangan.

Realitas di Ruang Kelas: Antara Ideal dan Beban Sistem

Di lapangan, utamanya di ruang  kelas Indonesia, hal ini  masih menghadapi persoalan klasik: beban administrasi guru, target kurikulum, dan tekanan asesmen.

Dalam kondisi seperti ini, gagasan “cinta dalam pendidikan” sering kali berhadapan dengan realitas sistem yang tidak selalu memberi ruang bagi relasi emosional yang mendalam antara guru dan siswa.

Secara konseptual KBC sangat bagus, tapi dilapangan, guru masih harus kejar target materi dan laporan. Waktu untuk benar-benar membangun kedekatan tak dengan siswa jadi terbatas.”

Pernyataan ini menggambarkan kesenjangan antara visi humanistik pendidikan dan realitas operasional sekolah.

Data: Ketika Relasi Emosional Menentukan Hasil Belajar

Sejumlah penelitian internasional memperkuat pentingnya dimensi relasional dalam pendidikan.

UNESCO Global Education Monitoring Report (2021) mencatat bahwa kesejahteraan emosional siswa berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar jangka panjang.

Sementara itu, penelitian John Hattie dalam Visible Learning menunjukkan bahwa hubungan positif guru–siswa termasuk salah satu faktor paling kuat dalam keberhasilan pembelajaran (effect size tinggi).

Artinya, kualitas relasi di ruang kelas bukan faktor tambahan—melainkan variabel utama dalam efektivitas pendidikan.

Namun, pertanyaannya: apakah sistem pendidikan Indonesia sudah memberi ruang struktural untuk hal ini?

Kurikulum Merdeka: Fleksibilitas Tanpa Kedalaman Relasi?

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sebagai upaya memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan guru.

Kurikulum ini menekankan:

pembelajaran berbasis proyek

diferensiasi pembelajaran

penguatan Profil Pelajar Pancasila

Secara desain, ini adalah kemajuan signifikan.

Namun sejumlah pengamat menilai bahwa fleksibilitas tidak otomatis menghasilkan kedekatan emosional di kelas.

Dalam banyak kasus, perubahan hanya terjadi pada struktur pembelajaran, bukan pada cara guru membangun relasi dengan siswa.

Di Mana Posisi “Kurikulum Berbasis Cinta”?

Jika ditarik lebih jauh, kurikulum berbasis cinta sebenarnya tidak berdiri sebagai kurikulum formal, melainkan sebagai paradigma pendidikan.

Ia menantang tiga hal sekaligus:

Pendidikan yang terlalu berbasis angka

Relasi guru–siswa yang terlalu formal

Sistem evaluasi yang terlalu administratif

Dalam kerangka ini, cinta bukan sekadar nilai moral, tetapi pendekatan pedagogis.

Namun, tanpa perubahan sistemik, ia berisiko menjadi slogan yang indah tetapi sulit dihidupkan di ruang kelas.

Tantangan Struktural: Bisa Tidaknya Cinta Diajarkan dalam Sistem yang Ketat?

Pertanyaan paling kritis dari gagasan ini adalah: bisakah cinta menjadi bagian dari sistem yang sangat terstruktur dan berbasis target?

Pendidikan modern bekerja dengan logika: Standar, indikator, capaian dan evaluasi. 

Sementara “cinta” bekerja dengan logika: Relasi, waktu, kedekatan dan kepercayaan.

Dua logika ini tidak selalu mudah dipertemukan.

Di sinilah letak tantangan terbesar: bukan pada konsep, tetapi pada desain sistem pendidikan itu sendiri.

Penutup: Antara Harapan dan Realitas

Wacana kurikulum berbasis cinta membuka ruang refleksi penting bagi pendidikan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa di balik semua kurikulum, asesmen, dan kebijakan, ada satu hal yang tidak boleh hilang: manusia.

Namun, tanpa dukungan sistem yang memungkinkan guru benar-benar hadir secara utuh di ruang kelas, gagasan ini berisiko berhenti sebagai idealisme.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah pendidikan membutuhkan cinta, tetapi:

apakah sistem pendidikan kita sudah memberi ruang bagi cinta untuk benar-benar hadir?