Menguji Kesalehan Ekologis : Implikasi Ekoteologi Dalam Keseharian Kita.
Drs. H. Ma'ruf Abidin, M. Si.
Selama ini, kesalehan seseorang sering kali diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah di dalam rumah ibadah. Namun, trend pemikiran baru yang disebut Ekoteologi mulai menggeser parameter tersebut ke tempat yang lebih dekat dengan keseharian kita: di atas asbak rokok, di meja makan dan dilorong lorong kantor, tempat kita biasa ngobrol sambil bercanda ria.
Secara filosofis, ekoteologi bukan sekadar jargon lingkungan. Ia adalah "jembatan spiritual" yang menegaskan bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian kepada Tuhan. Dalam Islam, hal ini dipertegas melalui hadis populer tentang kebersihan sebagai cerminan iman. Namun, ilmuwan sosial dan praktisi lingkungan kini menyoroti sebuah anomali yang disebut sebagai Dualitas Spiritual.
Ekoteologi merupakan bagian dari program kerja Menteri Agama di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ekoteologi hadir sebagai respon spiritual terhadap krisis lingkungan modern, menawarkan perspektif bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan manifestasi dari keimanan. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Yunani oikos (rumah/lingkungan) dan theos (Tuhan). Intinya, ekoteologi memandang lingkungan sebagai ciptaan suci yang memiliki nilai spiritual intrinsik, bukan sekadar objek untuk dieksploitasi demi kepentingan ekonomi.
Paradoks di Meja Makan dan Puntung Rokok di atas Asbak
Pemandangan sisa makanan yang berserakan, tisu yang menggulung di atas meja cafe, hingga gunungan puntung rokok di tempat umum, sampai pada lorong lorong kantor dimana kita setip hari nongkrong dan melewatinya, menjadi bukti nyata adanya "putus sambung" antara teks agama dan perilaku ekologis. Secara ilmiah, puntung rokok adalah salah satu polutan plastik mikro yang paling sulit terurai dan paling banyak mencemari ekosistem perkotaan. Secara statistik, dampaknya sangat mengerikan.
Diperkirakan Indonesia menghasilkan limbah plastik masif lebih dari 100.000 ton sampah puntung rokok setiap tahun. Angka ini setara dengan tumpukan raksasa polutan yang belum terkelola secara memadai di kebijakan nasional. Audit lingkungan terbaru di wilayah Jabodetabek pada tahun 2025 menemukan sekitar 4 puntung rokok di setiap satu meter persegi area publik. Ini berarti, hampir tidak ada ruang terbuka yang bebas dari jejak limbah rokok. Satu filter rokok mengandung sekitar 12.000 hingga 15.000 serat selulosa asetat (sejenis plastik) yang membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk terurai. Saat hancur, ia berubah menjadi mikroplastik yang meracuni tanah, air, hingga masuk ke rantai makanan manusia.
Di tingkat dunia, sekitar 4,5 triliun puntung rokok dibuang sembarangan setiap tahunnya, menjadikannya limbah plastik yang paling banyak ditemukan di pesisir dan lautan. Masalahnya bukan terletak pada ketiadaan dalil, tapi pada persepsi. Banyak orang merasa sudah 'shaleh' hanya dengan ritual ibadah, namun merasa 'bebas dosa' saat membiarkan sisa makanan terbuang percuma—padahal dalam ekoteologi, tindakan tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah sebagai penjaga bumi (khalifatul fil Ard' ). Dalam perspektif ekoteologi, setiap serat mikroplastik yang terlepas dari puntung tersebut bukan sekadar sampah, melainkan "jejak dosa" ekologis yang merusak amanah Tuhan atas kelestarian bumi.
Implikasi nyata dari Teologi ke Aksi
Ekoteologi menuntut perubahan perilaku yang radikal namun sederhana. Mengambil tanggung jawab atas sampah pribadi bukan lagi sekadar urusan estetika, melainkan ujian integritas iman. Jika seseorang mengaku beriman namun meninggalkan meja makan dalam kondisi berantakan, maka ada mata rantai spiritual yang terputus. Kini, tantangan terbesarnya adalah mengubah ekoteologi dari sekadar diskusi di ruang kelas menjadi aksi di ruang publik. Dimulai dari kesadaran bahwa satu puntung rokok yang dibuang sembarangan adalah noda kecil pada catatan keimanan seseorang. Sudahkah kita menjadi "khalifah" yang baik di meja makan kita hari ini ?
