Dari Filosofi ke Aksi: Menakar Wajah Baru Pendidikan Indonesia 2025
By. Ma'ruf Abidin Ketua Pokjawas Lamtim
Bandar Lampung – Dunia pendidikan Indonesia tengah berada di persimpangan sejarah yang menarik. Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh tepat hari ini, 2 Mei, momentum ini bukan sekadar seremoni mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara, melainkan menjadi titik tolak transformasi besar di bawah komando Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti.
Membawa "Ruh" Ki Hajar ke Ruang Kelas Modern
Sejarah Hardiknas yang berakar pada semangat perlawanan terhadap kebodohan kini diterjemahkan melalui paradigma baru. Jika dulu kurikulum sering dianggap sebagai beban administratif, kini pemerintah mendorong konsep Deep Learning.
Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan bukan soal seberapa banyak materi yang dihafal, tapi seberapa dalam siswa memahami makna di balik ilmu tersebut. Dengan pendekatan ini, ruang kelas diharapkan tidak lagi kaku, melainkan menjadi tempat diskusi yang reflektif dan menggembirakan.
Kurikulum Merdeka dan Kekuatan Karakter
Di sisi lain, implementasi Kurikulum Merdeka semakin matang dengan penguatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Bukan sekadar membuat prakarya, P5 kini difokuskan pada pembentukan karakter nyata: kejujuran, gotong royong, dan kemandirian. Karakter ini dianggap sebagai "investasi tetap" di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan.
Menariknya, pembentukan karakter tidak hanya datang dari buku teks. Prof. Mu'ti menekankan pentingnya Hidden Curriculum atau kurikulum tersembunyi. "Keteladanan guru dalam bertutur kata dan berpakaian adalah pelajaran paling nyata bagi siswa," tuturnya dalam sebuah kesempatan.
Revolusi Kasih Sayang di Madrasah
Tak kalah progresif, Kementerian Agama melakukan terobosan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang resmi diterapkan mulai Juli 2025. Melalui pilar Panca Cinta, Kemenag ingin memastikan bahwa madrasah bukan hanya tempat belajar hukum agama, tetapi juga ekosistem yang penuh kasih sayang terhadap sesama, alam, dan tanah air.
Langkah ini diambil untuk membentengi generasi muda dari paham radikalisme dan perundungan (bullying), sekaligus memastikan nilai spiritualitas tetap menjadi fondasi dalam penguasaan teknologi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Integrasi antara kurikulum nasional yang adaptif dan kurikulum berbasis nilai di madrasah menunjukkan satu visi besar: menciptakan manusia Indonesia yang unggul secara intelektual namun tetap rendah hati secara spiritual.
Pendidikan Indonesia kini tidak lagi hanya soal mencetak pekerja bagi industri—seperti sejarah panjang pengelolaan SDM profesional di era Infomedia—tetapi lebih jauh, mencetak manusia yang utuh, berdaya saing global, dan memiliki kecintaan mendalam pada negerinya.
