Search

Meneguhkan Komitmen ASN Kementerian Agama dalam Mengamalkan Nilai-Nilai Luhur Bangsa

Meneguhkan Komitmen ASN Kementerian Agama dalam Mengamalkan Nilai-Nilai Luhur Bangsa

Muhasabah Hari Lahir Pancasila

Meneguhkan Komitmen ASN Kementerian Agama dalam Mengamalkan Nilai-Nilai Luhur Bangsa

Oleh: ASN Kemenag Lampung Timur 

1 Juni 2025 bukan sekadar tanggal historis, melainkan momentum reflektif untuk seluruh anak bangsa, terutama kita para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga panduan etika, laku spiritual, dan arah pengabdian. Di tengah derasnya arus pragmatisme dan fragmentasi sosial, kita perlu bermuhasabah: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam tindakan dan pelayanan kita?

1. Pancasila dalam Napas ASN Kementerian Agama

Sebagai ASN di Kementerian Agama, kita berada di garda depan pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan keragaman agama, budaya, dan keyakinan. Di sinilah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa seharusnya menjadi dasar ketulusan dalam bekerja—tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan sebagai ibadah yang penuh keikhlasan.

Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab harus tercermin dalam sikap adil terhadap semua umat, tanpa diskriminasi. Ini bukan sekadar semboyan, tapi praktik yang menuntut empati, etika, dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan birokrasi dan pelayanan.

2. Muhasabah Diri: Apakah Kita Telah Hadir sebagai Pemersatu?

Pancasila menyatukan perbedaan, bukan menjadikannya alasan untuk berkonflik. Maka sebagai ASN Kemenag, kita punya tanggung jawab moral untuk memelihara Persatuan Indonesia melalui narasi damai, moderasi beragama, dan keteladanan akhlak. Dalam lingkungan kerja dan masyarakat, kita dituntut menjadi penyejuk di tengah kegaduhan.

Melalui Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, setiap kebijakan, program, dan layanan kita harus lahir dari musyawarah dan partisipasi, bukan arogansi birokrasi. Setiap suara masyarakat, termasuk mereka yang lemah dan terpinggirkan, patut kita dengar dan perhatikan.

Terakhir, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi indikator keberhasilan kerja kita. Apakah layanan kita telah adil dan merata? Apakah kita membantu masyarakat mengakses hak-hak keagamaan mereka secara bermartabat?

3. Komitmen Baru di Tahun 2025

Hari Lahir Pancasila bukan hanya seremoni tahunan, tetapi pengingat akan janji kita sebagai abdi negara: melayani, bukan dilayani; menjadi solusi, bukan sumber masalah. Kita tidak bisa hanya menjadi penghafal Pancasila, tetapi harus menjadi pengamalnya.

Mari perbarui niat dan tindakan:

Menjadi ASN yang bertakwa dan integritas,

Menjaga netralitas dan menjunjung akuntabilitas,

Menjadi teladan dalam keberagaman dan perekat bangsa.

Penutup: Saatnya Menjadi Teladan Pancasila

Dalam sunyi perenungan Hari Lahir Pancasila, marilah kita menundukkan hati dan bertanya: "Apakah aku telah menjadikan Pancasila sebagai nafas kerja dan sikap hidup?" Jika belum, inilah saatnya untuk berubah. Karena bangsa ini tidak butuh hanya pegawai, tetapi pelayan umat yang memancarkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam setiap langkah.

Dirgahayu Pancasila!

Hidupkan dalam tindakan, tegakkan dalam pelayanan.